Make your own free website on Tripod.com

Penjelasan tentang kemandirian Gita Getsemani dari GKI Bromo:

Pada tgl.16 Mei 2000, tepat empat tahun setelah berdirinya, Gita Getsemani resmi menarik diri dari koordinasi Komisi Musik Gerejawi GKI Bromo. Secara praktisnya, GitGet telah lepas dari gereja tersebut. Memang sulit dipercaya bahwa GitGet benar benar telah mandiri dan 'lepas' dari gereja induk mereka, setelah sempat mewarnai kehidupan berjemaat di sana. Bagaimanapun kelebihan dan kekurangannya, keberadaan dan pelayanan mereka yang khas telah meninggalkan kesan tersendiri bagi banyak pihak. Bagi yang mendukung atau yang menolaknya, GitGet sempat memberi warna khas gereja ini.

Namun memang Tuhan menghendaki agar GitGet menjadi dan menerima berkat dari berbagai pihak. Bukan untuk satu gereja atau kelompok saja. Sebagai kelompok yang terdiri dari berbagai denominasi dan latar belakang budaya (baca 'darimana saja anggotanya?') adanya perbedaan adalah sesuatu yang wajar dan perlu diapresiasi. GitGet terus rindu untuk meningkatkan wawasan dan kemampuannya untuk mengoptimalkan potensi yang ada dalam berbagai bentuknya. Namun justru keterbukaan dan suasana interdenominasi ini pula yang nampaknya sulit untuk diakomodasi beberapa pihak yang 'berkompeten' dan 'bertanggung jawab'. Perbedaan persepsi dan visi makin lama makin tak terjembatani dan suasana kerjasama pelayanan sudah tidak kondusif lagi untuk dilanjutkan.

Sebetulnya berbagai peristiwa dan situasi konfrontatif terselubung telah mendahuluinya - bahkan sejak pertama kalinya dibentuk. GitGet merasa keterlibatannya secara formal telah membatasi banyaknya kesempatan untuk berbagi berkat dengan anggota Tubuh Kristus lainnya. Setelah masa pergumulan yang cukup berat, GitGet memutuskan untuk 'terbang solo'. Secara formal, GitGet diakomodasi oleh Yayasan Baithani, Malang. Mereka sempat terlibat dalam penerbitan kaset kaset GitGet pada th. 1997 dan 1998.

Seperti seekor rajawali yang baru terbang sendiri karena sarangnya dirusak oleh induknya, beberapa anggota GitGet sempat masuk dalam rasa galau, karena berbagai alasan. Namun dalam waktu tidak lama, sayap sayap lemah merekapun berkembang dan dikuatkan oleh Tuhan. Dalam segala keterbatasan, kemampuan terbang merekapun menghapus segala kebimbangan. Anak anak rajawali itu segera menikmati kebebasan dan keindahan alam sekitarnya. Dengan berpindahnya sudut pandang dan ketinggian posisi terbangnya, Tuhan memberi cakupan penglihatan (=pengertian) yang lebih lengkap dan luas, yang belum pernah mereka nikmati sebelumnya. GitGet bertumbuh makin dewasa dan bertanggung jawab.

Ada banyak versi yang beredar seputar 'lepas'nya GitGet. Memang disesalkan, bahwa 'lenyap'nya mereka dari wajah pelayanan di GKI Bromo secara drastis cukup dirasakan oleh banyak jemaat. Namun hal ini justru kurang menguntungkan untuk banyak pihak, karena tak ada penjelasan resmi dari pihak yang berkompeten tentang hal ini. Seakan keberadaan mereka tak pernah merupakan bagian dari suatu rumah tangga - yang merasa anggota keluarganya ada yang 'terselip'. GitGet sempat ditanyai banyak pihak soal ini, dan banyak jemaat yang kemudian amat memahami dan bersimpati. Seperti jemaat itu, GitGet tak pernah menyesalkan keputusan penting yang mereka ambil, bahkan amat mensyukurinya sebagai kado HUT ke 4 mereka.

Satu hal yang jelas, GitGet amat menikmati pimpinan Tuhan dan pemeliharaanNya. GitGet selalu mengidentifikasikan diri mereka dengan bangsa Israel yang mengarungi padang gurun, dengan tiang awan dan api di depan mereka. Padang gurun itu adalah lokasi pengujian habis-habisan, karena hanya mereka yang tahan ujilah yang tetap bertahan dan menikmati berkat GitGet. Memang acapkali perjalanan itu terasa berat, karena arah tiang awan dan api yang tak dapat ditebak, dan bergerak pada saat yang tidak diduga. (Bil.9)

Namun penganugerahan manna surgawi dan air yang keluar dari batu untuk seluruh bangsa adalah mujizat yang dinikmati semua anak Tuhan yang bersedia masuk gurun ujian Tuhan. Hal ini membuat GitGet amat bersukacita, karena boleh terus dimurnikan motifnya oleh Tuhan. Pengujian ini bukan tanpa pengorbanan. Saat exodus Israel pasti ada saja anggota yang tidak tahan berjalan dalam teriknya siang dan dinginnya malam. Dalam ancaman binatang buas dan kesepian yang mencekam. Mereka akhirnya 'kembali ke Mesir' dan Israel harus merelakan kehilangan itu. Hanya Tuhan yang mengetahui apakah mereka akan kembali atau tidak.